OLEH H. A. JURAIDI, MA

Salah seorang Ketua, dan Instruktur Mediator BP4 Pusat

 

Dakwah Kultural Wali Songo

bp4 – Substansi Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu adalah sebagai upaya untuk mewujudkan kemaslahatan bersama, bukan untuk golongan tertentu atau suatu kelompok saja. Dengan kata lain, berjalannya Amar Ma’ruf Nahi Munkar merupakan pengejawantahan atau implementasi dari Islam Rahmatan lil ‘alamin.

Menyuruh kepada kebaikan (amar ma’ruf) agar tersosialisasi dan dilaksanakannya setiap kebaikan di tengah masyarakat  sehingga masyarakat menjadi beriman dan bertaqwa berarti mengharapkan turunnya keberkahan untuk seluruh negeri, sebagaimana firman Allah:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (٩٦)

Artinya:  “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS. Al-A’raaf: 96). 

Begitu pula, mencegah perbuatan munkar (nahi munkar) agar tidak berkembang di tengah masyarakat, berarti mencegah turunnya adzab Allah agar tidak menimpa seluruh negeri. Sebab sudah menjadi sunnatullah, manakala kemungkaran terjadi dimana-mana dan tidak ada yang peduli, masyarakat acuh tak acuh, tidak saling melarang, maka disana akan turun adzab Allah, dan kalau adzab itu turun, tidak hanya menimpa kepada pelaku-pelaku kemungkaran saja, tetapi orang-orang baik, anak-anak tak berdosa, orang tua jumpo yang tak berdaya akan merasakan dampaknya. Inilah sebahagian makna peringatan Allah yang berbunyi:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Arinya: “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS. Al-Anfal: 25).

Umat-umat terdahulu banyak yang dibinasakan Allah lantaran mereka tidak lagi saling mencegah kemungkaran yang terjadi di masyarakatnya. Itulah yang dialami Bani Israil, dan umat-umat lainnya yang mengabaikan nahi munkar. Sebagaimana firman Allah:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (٧٨)كَانُوا لا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (٧٩)

Artinya: :Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain  tidak saling melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. (QS. Al-Ma’idah: 78-79).

Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan kekhususan dan keistimewaan bagi umat Islam untuk menjadi unat terbaik (khaira ummah) sehingga Allah mendahulukan penyebutannya daripada beriman dalam firman-Nya:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرَهُمُ الْفَاسِقُونَ

 Artinya: “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik“. (QS. Ali Imron :110). 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, ”Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan, umat Islam adalah umat terbaik bagi segenap umat manusia. Umat yang paling memberi manfaat kepada manusia. Karena mereka telah menyempurnakan seluruh urusan kebaikan dan kemanfaatan dengan amar ma’ruf nahi mungkar. Mereka tegakkan hal itu dengan jihad di jalan Allah dengan jiwa dan harta mereka. Inilah anugerah yang sempurna bagi manusia.

Dengan demikian, amar ma’ruf nahi ungkar sesungguhnya  menjadi kebutuhan bersama umat manusia, setidaknya bagi suatu negeri atau suatu komunitas, agar mendapatkan keberkahan, serta terhindar dari kemurkaan Allah. 

Kewajiban Melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan kewajiban yang dibebankan Allah SWT kepada umat Islam sesuai kemampuannya. Allah berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung“. (QS. Al-Imran:104).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini (QS. Al-Imran:104): ”Maksudnya,  hendaklah ada sebagian umat ini yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar”. Artinya amar ma’ruf nahi munkar menjadi kewajiban kolektif atau fardhu kifayah. Namun sebagian ulama tafsir mengatakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar hukumnya fardhu ‘ain, dengan menjelaskan bahwa kata مِنْ dalam ayat مِنْكُمْ untuk penjelas dan bukan untuk menunjukkan sebagian. Sehingga makna ayat tersebut, jadilah kalian semua umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Demikian juga akhir ayat yaitu: وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ  menegaskan bahwa keberuntungan itu khusus bagi mereka yang melakukan amalan tersebut. Sedangkan mencapai keberuntungan tersebut hukumnya fardhu ‘ain. Oleh karena itu memiliki sifat-sifat tersebut, melakukan amar ma’ruf nahi munkar hukumnya wajib ‘ain juga. Karena dalam kaedah disebutkan:

مَا لاَ يَتِمُ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Satu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib”. 

Hal tersebut dikuatkan dengan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barangsiapa (siapa-pun) yang melihat (mengetahui) satu kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman“. [HR Muslim].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, “Kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar tidak diwajibkan kepada setiap orang, akan tetapi merupakan fardhu kifayah”. Akan tetapi hukum ini bukan berarti menunjukkan bolehnya seseorang untuk tidak berdakwah, atau beramar makruf nahi mungkar. Karena terlaksananya fardhu kifayah ini dengan terwujudnya pelaksanaan kewajiban perorangan tersebut. Sehingga apabila kewajiban tersebut belum terwujud pelaksanaannya oleh sebagian orang, maka seluruh kaum muslimin terbebani kewajiban tersebut.

Pelaku amar makruf nahi mungkar adalah orang yang menunaikan dan melaksanakan fardhu kifayah. Mereka memiliki keistimewaan lebih dari orang yang melaksanakan fardhu ‘ain. Karena pelaku fardhu ‘ain hanya menghilangkan dosa dari dirinya sendiri, sedangkan pelaku fardhu kifayah menghilangkan dosa dari dirinya dan kaum muslimin seluruhnya. Demikian juga jika fardhu ‘ain ditinggalkan, maka hanya dia saja yang berdosa, sedangkan fardhu kifayah jika ditinggalkan akan berdosa seluruhnya. 

Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Dakwah Kultural

            Keberhasilan dakwah, amar ma’ruf nahi munkar sangat ditentukan oleh metode yang digunakan. Secara garis besar Al-Quran memberikan panduannya:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl: 125).

Ayat ini dipahami oleh sementara ulama sebagai penjelasan tiga macam metode dakwah yang harus disesuaikan dengan objek dakwah. Terhadap kelompok cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah yaitu dalam bentuk dialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Terhadap kelompok awam diperintahkan untuk menerapkan mau’izhah yaitu memberikan nasihat dan gambaran yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedangkan terhadap ahl al kitab dan penganut agama-agama lain yang diperintahkan adalah jidal, perdebatan dengan cara terbaik.

Nabi, dan para sahabat berdakwah disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat. Sayyidina Umar bin Khattab misalnya pernah berkata: “Khatibu an-naas ‘ala qadri uqulihim” (sampaikanlah ajaran Islam sesuai kadar kemampuan mereka).

Dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang heterogen dari aspek etnis, suku, budaya, bahasa, dan  sebagainya, maka perlu menerapkan amar ma’ruf nahi munkar dengan pendekatan dakwah multi kultural,  sebuah model penyampaian misi Islam yang lebih terbuka, toleran, dengan mengakomodir budaya dan adat istiadat masyarakat setempat. Al-Quran menggunakan istilah bi lisaani qaumihim, dan dengan qaulan layyina. Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali ‘Imram: 159).

Dakwah kultural ini sebenarnya sudah dilakukan oleh Rasulullah SAW, bagaimana cara beliau  mendekati kabilah-kabilah yang ada saat itu. Karena itu, dapat kita tiru, tentu dengan kondisi masyarakat yang berbeda saat ini. Apa yang dilakukan Nabi SAW dan sahabatnya itu merupakan cerminan dari ketiga bentuk metode dakwah yang disebut dalam Surah An-Nahl: 125 tersebut, yakni bil hikmah, mauizhatil-hasanah, wa jaadil hum billati hiya ahsan. Sebab suatu kebaikan itu perlu disampaikan dengan cara yang baik pula. Allahu a’lam.

 

 

 

 

Bagikan ke: