Ada dua ayat yang serupa dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kelompok manusia yang dianggap tidak mati, meskipun mereka sudah wafat. Allah berfirman:

وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ (١٥٤)

Artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. (QS. Al-Baqarah: 154).

Di dalam Surat Ali ‘Imran ayat 169 Allah berfirman :

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (١٦٩)

Artinya: “Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup, disisi Tuhannya mereka mendapat rezeki”.

Kedua ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa ada kelompok manusia yang walaupun mereka telah wafat, tetapi mereka sesungguhnya tidak mati dan tetap hidup, bahkan  di sisi Tuhan mereka senantiasa mendapat rezeki. Hanya saja kebanyakan kita tidak menyadarinya. Timbul pertanyaan, siapakah mereka? Mengapa mereka dianggap tetap selalu  hidup, bahkan senantiasa mendapat rezeki? Lalu, bisakah kita masuk dalam kelompok mereka?

Mereka adalah orang-orang yang gugur di jalan Allah, yaitu para syuhada, orang-orang yang mati syahid dalam peperangan memperjuangkan tegaknya kebenaran, mempertahankan keyakinan, membela hak hidup umat manusia yang tertindas. Para shahabat Rasulullah yang gugur di medan perang masuk dalam kelompok ini. Dalam konteks  Indonesia, para pahlawan kusuma bangsa, pejuang perebut kemerdekaan dari penjajah, membela tanah air, kedaulatan bangsa dan negara dengan ikhlas karena Allah, in sya Allah juga masuk dalam kelompok ini.

Dalam pembahasan fikih tentang kategori orang-orang mati syahid, tidak hanya yang gugur di medan perang, tetapi juga  orang-orang yang meninggal  fi sabilillah, dalam mengabdi dan memperjuangkan harkat dan martabat kemanusiaan, termasuk berbagai bidang kehidupan, seperti; bidang  pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, keterbelakangan dan sebagainya. Nah, dalam konteks ini kita punya harapan untuk masuk ke dalam kelompok orang-orang gugur di jalan Allah.

Mereka tidak mati, bahkan tetap hidup. Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang Mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.

Banyak kajian dan penafsiran terhadap kedua ayat tersebut. Terkait para syuhada Uhud yang gugur dalam perang Uhud bersama Rasulullah SAW. Setelah terkubur selama kurang lebih empat puluh tiga tahun sejak dikebumikan tahun ketiga Hijriyah, pada tahun 46 Hijriah atau tahun 667 Masehi terjadi banjir besar melanda tanah Arab, termasuk lembah Jabal Uhud. Banjir menyebabkan beberapa jenazah syuhada Uhud terangkat ke permukaan, jasad mereka tergeletak di atas tanah. Jasad-jasad yang masih utuh dan berbau harum ini kemudian dikebumikan kembali di tempat yang lebih tinggi. Darah segar masih mengalir pada jasad-jasad Syuhada Uhud ini ketika ditemukan oleh warga seusai banjir surut. Tempat Pemakaman pertama sebagai tempat asal jasad para pahlawan Perang Uhud, kini dijadikan tempat aliran air (kanal). Ribuan tahun kemudian, orang-orang mulai melupakan tempat pertama itu, dan menganggap tempatnya yang ada sekarang sebagai tempat asli.

Melansir laman Islamic Research Foundation International (IRFI), kala itu, Syekh Muhammad adalah seorang ulama yang dipilih untuk menguburkan kembali para syuhada  Uhud, beliau mengatakan bahwa jasad jenazah tersebut masih dalam keadaan utuh dan tidak membusuk. Berikut keterangan dari Syekh Muhammad: “Di antara jenazah itu, ada Hamzah bin Abdul Muthalib (pamanda Nabi Muhammad SAW), ada luka di bagian hidung, telinga, dan perutnya. Dia meletakkan  tangannya di atas perutnya. Ketika kami mengangkat tangannya, darah mengalir seolah-olah dia meninggal satu jam yang lalu”.

Seorang ilmuwan muslim Dr. Abdul Hamid Al Qudhah juga hendak menjelaskan fenomena ini melalui risetnya. Dr. Abdul Hamid berkata bahwa “mikroba juga merupakan salah satu makhluk Allah  yang patuh pada  perintahNya layaknya makhluk Allah lainnya. Allah memerintahkan mereka (mikroba) untuk tidak mendekati tubuh para syuhada dan mereka melakukannya. Ada juga banyak tanda lain (dalam jasadnya) seperti wajah yang tersenyum, berdarah, berkeringat, dan aroma musk,”

Menurut Ahsantudhonni dalam bukunya yang berjudul  “Keutamaan Al-Qur’an dalam Perspektif Hadits”,  Rasulullah SAW pernah menyebut bahwa jasad para penghafal Al-Qur’an atau para hafizh dilindungi oleh Allah, sebagaimana perintahNya pada bumi untuk menjaga jasad tersebut.

عَنْ جَابِرَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا مَاتَ حَامِلُ القُرْآنِ أَوْحَى اللَّهُ إِلىَ الأَرْضِ لِأَكْلِ لَحْمِهِ قَالَ فَتَقُوْلُ الأَرْضُ وَكَيْفَ آكِلُ لَحْمَهُ وَكَلاَمَكَ فِي جَوْفِهِ.

Artinya: Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Ketika orang yang hafal Al-Qur’an meninggal maka Allah memberikan wahyu kepada bumi agar tidak memakan jasadnya, kemudian bumi berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa memakan jasadnya sementara kalamMu ada di dalamnya”. (HR.Dailami).


Baca artikel detikedu, “Kelompok yang Jasadnya Tidak Hancur hingga Kiamat, Benarkah Ada?” selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6124583/ kelompok-yang-jasadnya-tidak-hancur-hingga-kiamat-benarkah-ada

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar ketika membahas ayat 154 surat Al-Baqarah, dan ayat 169 surat Ali ‘Imran mengatakan bahwa yang tidak pernah mati itu adalah nilai-nilai yang mereka perjuangkan berupa kebenaran, keadilan dan kebajikan, selamanya akan tetap hidup, dan akan selalu diteruskan oleh generasi pejuang selanjutnya sampai kapan pun.

Dalam peradaban kita, memang ada kelompok yang kita anggap selalu hidup, tidak pernah kita lupakan. Secara kolektif dalam kehidupan berbangsa kita menyepakati adanya Hari Pahlawan, atau pun Hari Proklamasi Kemerdekaan RI,  setiap tahun kita peringati, sehingga seolah mereka para pahlawan yang merebut kembali kemerdekaan kita itu selalu hidup, meskipun sudah puluhan bahkan ratusan tahun yang silam mereka telah wafat. Dan dalam peringatan itu kita berdo’a bersama. Do’a yang kita panjatkan itulah rezeki bagi mereka di sisi Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Kalau kita cermati, setidaknya ada dua hal yang dimiliki oleh para pahlawan itu. Pertama, mereka memiliki pahala kebajikan yang sangat banyak. Bagaimana tidak, semua yang mereka miliki berupa harta, tenaga, dan nyawa sekalipun mereka korbankan. Maka pastilah mereka memiliki pahala yang banyak. Ahli bahasa ada yang mengakatan bahwa kata “pahlawan” itu berasal dari kata pahala dan wan. Artinya orang yang memiliki pahala. Kedua, mereka para pahlawan atau syuhada adalah orang-orang yang terbanyak silaturrahimnya. Bukankah di masa penjajahan silaturrahim (tali kasih sayang) itu terputus, dan sengaja diputus oleh pihak penjajah dengan politik depede et-impera, mengadu domba dan memecah belah untuk mengekalkan jajahannya. Dengan perjuangan para pahlawan lah kemerdekaan dapat direbut kembali, sehingga tali kasih sayang bisa berkembang, bahkan terhubung silaturrahim dari generasi ke generasi selanjutnya. Jadi, mereka para pahlawan adalah orang-orang yang terbanyak silaturrahimnya. Pantaslah mereka dipanjangkan umurnya sesuai hadits Rasulullah SAW:

مَنْ اَرَادَ اَنْ يَبْسُطَ فِىْ رِزْقِهِ  وَاَنْ يٌنْسَأَ فِى اَثارِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang ingin diluaskan rezekinya, dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim”.

Kalau demikian, kita pun bisa menjadi seperti pahlawan, atau setidaknya mengikuti jejak para pahlawan dengan memiliki atau melakukan dua substansi tersebut, yaitu pertama, berupaya memiliki pahala kebajikan sebanyak mungkin, dan kedua, berupaya menyambung dan menebar kasih sayang, silaturrahim sebanyak mungkin. Dengan demikian Allah pasti akan melimpahkan rezeki dari sisiNya melalui do’a-do’a yang dipanjatkan orang-orang yang hidup setelah kita secara terus menerus sepanjang masa.

Itulah kehidupan yang indah, kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang tetap produktif meskipun kita telah wafat. Bukankah ciri-ciri hidup itu antara lain produktif. Sungguh luar biasa, mereka para syuhada itu meski telah wafat tapi masih produktif,  menghasilkan pahala dari do’a yang dipanjatkan oleh orang yang hidup setelah mereka dari generasi ke generasi. Dan yang lebih luar biasa adalah mereka bisa memberi manfaat materi bagi orang-orang yang masih hidup. Misalnya makam auliya Allah yang senantiasa dikunjungi para peziarah, dari kunjungan para peziarah tersebut terjadi transaksi jual beli di antara mereka, sehingga mereka saling memperoleh manfaat dengan sebab keberadaan makam syuhada atau auliya Allah tersebut.

Namun sebaliknya ada juga manusia yang masih usia produktif justru tidak bisa menghasilkan apa-apa, jangankan memberi manfaat untuk orang lain, untuk dirinya sendiri saja dia tidak bisa mengurusnya, seperti mereka para korban narkoba dan yang sejenisnya. Na’udzubillahi min dzalik.

cover : Ilustrasi Makam Syuhada Uhud. Foto: Ist/Net

Bagikan ke: