Allah SWT memiliki hak mutlak atau prerogatif untuk melebihkan “sesuatu” dibandingkan dengan “sesuatu” yang lain, sebagaimana firmanNya;

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. (QS. Al-Qashash: 68).

Oleh karena itu, ada tempat yang dilebihkan Allah nilainya dibandingkan tempat lain, misalnya Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi, Masjid Al-Aqsha, dan tempat-tempat lain di masy’aril-haram, Maqam Ibrahim, Hijr Ismail, Multazam, serta Raudhah (tempat yang terletak di antara kamar dengan mimbar Rasulullah). Begitu pula, ada waktu yang dilebihkan Allah nilainya dibandingkan waktu-waktu yang lain, seperti dalam sehari semalam ada nishful-lail, atau sepertiganya, Allah perintahkan bangun pada waktu itu untuk mengambil faedah keutamaannya:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا (٧٩)

Artinya: “dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji”. (QS. Al-Isra: 79.

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (١) قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا (٢) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلا (٣)

Artinya: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit”. (QS. Al-Muzammil: 1-3).

 Dalam seminggu ada satu hari yang disebut Sayyidul Ayyam, yaitu Hari Jum’at, di samping hari Senin dan Kamis. Dalam sebulan ada yang  disebut Yaumul-Bidh, yaitu tanggal 13, 14, dan 15. Dalam setahun ada beberapa bulan yang dilebihkan nilainya, seperti bulan Ramadhan, dan ada 4 bulan Haram, salah satunya bulan Rajab yang menjadi topik tulisan ini, yaitu “Keutamaan Bulan Rajab”.

Bulan Rajab termasuk salah satu bulan haram atau bulan yang sangat dihormati. Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ  ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً  وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (٣٦)

 Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan hara. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya dii kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (QS. At-Taubah:36).

Ada 4 (empat)  bulan Haram, bulan yang sangat dihormati karena kemuliaannya,  yaitu; Bulan Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Pada bulan ini janganlah kamu menganiaya dirimu  فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ maksudnya dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan mengadakan peperangan.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafah Al-Qulub menjelaskan bahwa Rajab adalah nama salah satu sungai di dalam surga, airnya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu, dan lebih dingin dari salju. Tidak akan bisa meminum airnya kecuali orang-orang yang berpuasa di bulan Rajab. Menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitabnya Al-Ghuniyah, Rajab terdiri dari 3 huruf: ر  artinya Rahmatullah, ج artinya Juudullah, kemurahan Allah, dan  ب artinya Birrullah, kebaikan dari Allah.   Para ‘ulama salafus-shalih  mengatakan bahwa Rajab menjadi tonggak ibadah penting pada dua bulan berikutnya yaitu Sya’ban dan Ramadhan.

رَجَبَ شَهْرُ الزَّرْعِ,  شَعْبَانَ شَهْرُ السَّقْيِ, وَرَمَضَانَ شَهْرُ الْحَصَادِ

“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan menyiram, dan Ramadhan adalah bulan memanen”

Oleh karena itulah Rasulullah  apabila masuk bulan Rajab beliau memanjatkan do’a yang diriwayatkan shahabat Anas bin Malik, yaitu:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Artinya:

 “Wahai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Syaban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan”

Bulan Rajab juga disebut dengan Bulan Istighfar, karena pada bulan ini Allah Artinya: “Maha Suci Allah Yang Maha Belas Kasihan.”membuka pintu ampunannya, oleh karena  itu amalan yang paling baik di bulan ini di samping puasa sunnah adalah memperbanyak istighfar. Ada  istigfar khusus bulan Rajab yang diajarkan oleh para ulama shalafus-shalih yaitu:

رَبِّ اغْفِرْ لِىْ  وَارْحَمْنِىْ وَتُبْ عَلَيَّ

Artinya: “Ya Allah, ampuni aku, rahmati aku, dan terimalah taubatku”.

(Dibaca 70 kali setiap hari)

سُبْحَانَ اللهِ الْحَيِّ الْقَيُّوْمِ

Artinya: “Maha Suci Allah, Yang Maha Hidup, dan Maha Mengurus makhluq-Nya.”

(dibaca sebanyak 100 kali sehari, Tanggal 1-10 Bulan Rajab).

سُبْحَانَ اللهِ الْاَحَدِ الصَمَدِ

Artinya: “Maha Suci Allah yang Maha Esa, dan semua tergantung kepada-Nya”.

(dibaca sebanyak 100 kali sehari, Tanggal 11-20 Bulan Rajab).

سُبْحَانَ اللهِ الرَّؤُوْف

Artinya: “Maha Suci Allah yang Maha Belas Kasihan”.

(dibaca sebanyak 100 kali sehari, Tanggal  21-30 Bulan Rajab).

Ada kalimat yang dinamakan  sayyidul-Istighfar (penghulunya Istighfar) yang sangat baik diperbanyak melafazkannya di bulan ini:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Artinya: “Wahai Tuhan, Engkau-lah Tuhanku. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintahMu, sesuai perjanjian dengan-Mu, dan sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu kepadaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.” (HR. Bukhari).

Pada bulan Rajab juga terjadi peristiwa penting dalam perjalanan kehidupan baginda Rasulullah Muhammad SAW, tepatnya pada malam tanggal 27 Rajab satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah yaitu  peristiwa Isra’ Mi’raj. Peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa irrasional, sehingga sangat wajar Allah yang Maha Mengetaui menceritakan peristiwa tersebut dengan kalimat Tasbih, SUBHANA artinya Maha Suci (Allah). Maha suci dari sifat lemah, Maha Suci dari ketidakmampuan, Maha Suci dari sifat-sifat negatif lainnya. Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan berada dalam wilayah akal pikiran manusia, tetapi harus disikapi dengan pendekatan keimanan. Allah berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١)

 Artinya: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[847] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Isra’: 1).

 Orang-orang yang beriman meyakini bahwa peristiwa dahsyat Isra’ Mi’raj itu tentu mempunyai tujuan,  dan membawa hasil berupa sesuatu yang sangat penting  untuk kehidupan umat manusia. Apakah saja lesson learn peristiwa Isra’ Mi’raj itu?

  1. Tujuannya disebutkan dalam ayat 1 Surah Al-Isra’ : لِنُرِيَهُ مِنْ اياتِنا  untuk Kami perlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Dengan diperlihatkan secara langsung sebagian tanda-tanda kebesaran Allah, Nabi Muhammad SAW mendapat tambahan energi dan bekal spritualitas yang sangat kuat dalam mengemban Risalah yang diamanatkan kepada beliau. Kesedihan yang beliau alami karena meninggalnya isteri tercinda Siti Khadijah, dan paman beliau Abu Thalib sehingga para ahli sejarah menamakannya “Tahun Duka Cita” (‘amul-huzni), menjadi terhibur dengan peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Dan beliau mendapatkan spirit baru dalam melaksanakan tugas sucinya.
  2. Adapun tujuan yang lain adalah Allah hendak menyerahkan sesuatu yang sangat penting, yaitu Shalat Fardhu Lima Waktu. Pentingnya Shalat Lima Waktu itu, terlihat dengan cara penyerahannya secara langsung dari Allah kepada baginda Rasulullah, tidak diwakilkan,  dan memerlukan tempat yang khusus bernama Sidratil Muntaha.

Banyak keistimewaan yang dimiliki ibadah Shalat, di antaranya:

  1. Shalat merupakan bentuk pengabdian (cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa) yang paling sempurna, meliputi:
  2. Penghormatan tertinggi yang diungkapkan dengan mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan kalimat Takbir, merupakan bentuk penghormatan sekaligus kepasrahan diri kepada Sang Pencipta. Hal ini tergambar dalam Takbiratul-Ihram, dan dilanjutkan dengan do’a iftitah;
  3. Penghambaan diri secara total, digambarkan dalam bentuk SUJUD. Wajah manusia yang dianggap anggota tubuh yang sangat dihormati, rela diletakan di lantai/tanah yang dianggap hina, sambil mengucapkan kalimat tasbih, mengakui hanya Allah yang memiliki kekuasaan Yang Maha Tinggi;
  4. Menjaga hubungan dengan sesama makhluk Tuhan, tergambar dalam bentuk SALAM, isyarat menebar keselamatan.
  5. Gerakan shalat membawa hikmah bagi kesehatan. Banyak para pakar yang menggali hikmah gerakan shalat, di antaranya Prof. DR. Sabo yang mengatakan bahwa gerakkan duduk iftirasy, dan duduk tawarruk dalam shalat itu secara medis mampu mengantisipasi penyakit ambien atau wazir.
  6. halat merupakan amal perbuatan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat kelak.

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاة

“Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalat:” 

  1. Shalat pembeda antara muslim dan kafir;

اَلْفَرْقُ بَيْنَ الْمُؤْمِنْ وَالْكَافِرُ ألصَّلَاة

“Perbedaan orang mukmin dan kafir adalah shalat:”

  1. Shalat mencegah perbuatan keji dan munkar;

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (٤٥)

Artinya “ “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut: 45).

Dalam konteks memelihara diri dari perbuatan keji dan munkar,  pelaksanaan shalat dibagi menjadi 5 (lima) waktu, bukan satu waktu sekaligus, hal ini dimaksudkan agar manusia yang mempunyai sifat lupa, senantiasa diingatkan ketika mulai lupa dengan berjalannya waktu dari waktu shubuh, ke waktu zhuhur, dari waktu zhuhur ke waktu ashar, dari waktu ashar ke  maghrib, dan dari maghrib ke isya secara terus menerus, sehingga seseorang yang menjaga shalat yang lima waktu tersebut senantiasa terhubung dengan Sang Khaliq yang akan menjaganya dari perbuatan keji dan munkar. Itulah antara lain sebabnya, kenapa shalat ditetapkan waktunya:

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (١٠٣) 

Artinya: “….. Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (QS. An-Nisa’: 103),

  1. Warisan terindah untuk generasi penerus.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

 Artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thoha: 132). 

Kenapa mesti bersabar? Karena melaksanakan shalat banyak godaannya, sehingga perlu kesabaran (الصبر على الطاعة). Bukan hanya sabar dari cobaan berupa musibah, sabar dalam ketaatan juga sangat diperlukan.

  1. Shalat itu mi’rajul-mukmin:

اَلصَّلَاةُ مِعْرَجُ الْمُؤْمِنُ

“Shalat itu mi’rajnya orang beriman”.

Shalat dapat meninggikan derajat orang-orang yang beriman, melalui shalat seolah-olah dia mi’raj, dinaikan derajatnya oleh Allah SWT ke tempat yang terhormat.

Semoga kita bisa meraih keutamaan-keutamaan Bulan Rajab. Amin.

Bagikan ke: