Oleh: DR. H. A. JURAIDI, MA – Dosen  UIN & PTIQ Jakarta, dan Ketua BP4 Pusat.

 

Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (٥٨)

Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

Ayat di atas dapat dijadikan hujjah untuk kita bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan, karena Ramadhan adalah karunia dan rahmat Allah, sehingga kedatangannya ditunggu oleh orang-orang yang beriman. Bahkan dua bulan sebelum datangannya Rasulullah SAW mengajarkan do’a:

اللهم بارك لنا فى رجب  وشعبان وبلعنا رمضان

“Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, sampaikan (usia) kami ke bulan Ramadhan”. 

Meskipun di bulan Ramadhan ada perintah berpuasa yang cukup berat untuk dilaksanakan, namun bagi orang-orang yang beriman  puasa itu justru karunia dan rahmat Allah. Bahkan semua perintah Allah dan segala laranganNya pada hakekatnya bertujuan untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia, bukan untuk kepentingan Allah. Dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 9 setelah Allah memerintahkan agar memenuhi shalat Jum’at dan meninggalkan jual beli, Allah jelaskan:  ذالكم خير لكم ان كنتم تعلمون – “yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. Oleh karena itu, jangan mengukur kebaikan menurut akal pikiran kita yang terbatas, tapi ukuran kebaikan yang sesungguhnya adalah kebaikan menurut ilmu Allah yang Maha Luas.

Salah satu tanda keimanan seorang muslim adalah bergembira dengan akan datangnya bulan Ramadhan. Itulah kegembiraan spritual, bukan kegembiraan material. Letaknya di hati sebagai wujud keimanan, karena itu Rasulullah mengapresiasi dengan ungkapan:

من فرح بدخول رمضان حرم الله جسده عن النيران

“Siapa yang gembira dengan datangnya bulan Ramadhan maka Allah haramkan jasadnya dari api neraka”. 

Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bahkan dia merasa sudah karena banyak resto yang tutup di siang hari. Hal ini mengisyaratkan tipisnya keimanannya. Jadi, dorongan iman jualah menyebabkan seseorang gembira, atau tidak ada kegembiraan. Iman akan menjadi dinamisator terhadap gerak anggota tubuh yang lain, sehingga ada ungkapan “Miqyasul iman, amal – ukuran iman itu adalah amal”.

Ungkapan kegembiraan (Tarhib) menyambut datangnya Ramadhan adalah kalimat khusus yaitu: مرحبا يا رمضان  suatu ungkapan kegembiraan dikhususkan kepada tamu yang diyakini membawa manfaat dan kebaikan, bukan  اهلا وسهلا يا رمضان  suatu uangkapan umum menyambut tamu, termasuk tamu yang belum dikenal.

Begitulah ungkapan tarhib untuk Ramadhan karena diyakini dia datang dengan berbagai macam kebaikan. Bukankah di bukan Ramadhan ada satu malam yang bernilai lebih baik dari 1000 bulan?

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣)

Sebagai ummat Nabi Muhammad SAW yang umurnya rata-rata hanya antara 60 sd. 70 tahun tentu kita sangat senang dan gembira, ada kesempatan menambah nilai umur kita yang tergolong pendek dengan keutamaan Lailatul-Qadr.  Keutamaan Ramadhan juga disebutkan dalam hadits berikut:

لو تعلم امتى ما فى رمضان لتمنو  ان تكون سنة كلها رمضان, لان الحسنة فيه مجتمعة, والذنوب مغفورة, والدعوات مستجبة

“Andaikan umatku mengetahui apa-apa yang ada di dalam Ramadhan, niscaya mereka menginginkan sepanjang tahun terdiri dari bulan Ramadhan. Karena sesungguhnya balasan  kebaikan di dalamnya dilipatgandakan, segala dosa diampuni, dan semua do’a diijabah”.

Ramadhan adalah ladang pahala, karena setiap amal kebaikan dilipatgandakan imbalannya. Menyediakan makan untuk berbuka  (takjil) orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala sama dengan pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala yang bersangkutan.  Hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Khalid al-Juhani dia berkata,  Rasulullah SAWbersabda: “Barang siapa yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti dia, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun”. (HR. At-Tirmidzi).

Berinfaq dan bersedekah di bulan Ramadhan pahalanya dilipatgandakan melebihi sedekah di bulan lain, karena kemuliaan Ramadhan. Sebagaimana hadits berikut ini:

أفضل صدقة صدفة فى رمضان

“Seutama-utama shadaqah adalah shadaqah di bulan Ramadhan”.

Pahala berinfaq fi sabilillah  dilipatgandakan balasannya sampai 700 kali lipat, tentunya lebih lagi infaq yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan. Allah berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (٢٦١)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 261).

Keutamaan berpuasa di bulan Ramadhan adalah Allah ampuni segala dosa yang telah lalu, sebagaimana diwartakan hadits yang sangat populer yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ر. ض.  قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Sunan Tirmidzi nomor hadits 683 versi Maktabatu Ma’arif Riyadh).      

Sebagai manusia kita sering melakukan kesalahan dan berbuat dosa, entah karena lupa maupun  sengaja. Ahli hikmah mengatakan: الانسان محل الخطاء و النسيان – manusia tempatnya salah dan lupa. Namun, sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau memohon ampunan kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam adalah bersalah, dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi.

Pintu ampunan itu ada di bulan Ramadhan. Maka rugi kita kalau tidak memanfaatkan kesempatan Ramadhan untuk mendapatkan ampunan Allah. Rasulullah bersabda:

رغم اتف رجل  دخل عليه رمضان  وتم رمضان قبل ان يغفر له

Artinya: “Celaka orang yang berjumpa dengan Ramadhan, dan berakhir Ramadhan, namun dia tidak juga mendapat ampunan Allah”.

Keutamaan lain dari bulan Ramadhan adalah segala do’a akan dikabulkan, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas: والدعوات مستجبة  Segala do’a dikabulakn”. “Ayat tentang puasa terdapat di dalam Surat Al-Baqarah ayat 183, 184, 185, dan 187. Ayat 186nya berbicara tentang do’a:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (١٨٦)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al-Baqarah: 186).

Hal tersebut akan menambah kegembiraan orang yang beriman dengan datangnya bulan Ramadhan, sebab Allah akan mengabulkan do’a dan permohonannya. Do’a adalah perintah Allah, dan Allah pula yang mengabulkan. Oleh karena itu, setiap do’a dari seorang hamba pastilah diterima Allah. Allah sangat senang dengan curhat dan keluh kesah hambaNya, karena itu do’a dikategorikan sebagai ibadah, bahkan intinya ibadah, sebab orang yang berdo’a adalah orang yang meyakini keMahakuasaan Allah, dan mengakui akan keterbatasan dirinya, karena itu dia mau berdo’a.

Maka, perbanyaklah do’a di saat puasa, disamping akan dikabulkan Allah, juga bernilai ibadah. Dan mari kita gembirakan hati menyambut datangnya Ramadhan 1445 Hijriyah.

Bagikan ke: