Oleh M. Fuad Nasar

Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat adalah tokoh nasional yang langka, baik dari segi keilmuwan maupun pengabdiannya di tengah masyarakat. Semasa hidupnya, puluhan tahun mengajar di perguruan tinggi, berdakwah, menulis dan melayani konsultasi keluarga dengan pendekatan psikologi agama. Zakiah Daradjat dikenang sebagai pelopor Psikologi Islam dan salah satu tokoh BP4 Pusat. Pemikiran dan nasihat-nasihatnya tetap relevan dengan kondisi sekarang. Dalam majalah Nasehat Perkawinan BP4 Pusat yang terbit mulai tahun 1972, Zakiah Daradjat menjadi penulis tetap dan terakhir mengisi rubrik Psikologi Agama. Ia adalah tokoh yang berjasa mengembangkan misi Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) sampai akhir hayatnya. Pada tahun 1999 Zakiah Daradjat dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden RI.

Tokoh kelahiran Koto Marapak, Kecamatan Ampek Angkek, Bukittinggi Sumatera Barat tanggal 6 November 1929 itu setamat dari Sekolah Dasar Muhammadiyah di kampungnya, menempuh pendidikan Kulliyatul Muballighat Diniyah Puteri Padang Panjang dan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta tahun 1951-1955. Zakiah Daradjat mendalami bidang Mental Hygiene di perguruan tinggi Ein Shams University, Faculty of Education Mental Hygiene Department di Cairo Republik Arab Mesir hingga meraih magister (1959) dan doktor (1964). Profesinya sebagai konsultan masalah agama dan kejiwaan ditopang dengan penguasaan keilmuwan yang mumpuni.
Setelah pulang ke tanah air, Zakiah Daradjat mengabdikan ilmunya untuk kepentingan masyarakat luas. Dalam status purna mahasiswa ikatan dinas ia mengawali karier sebagai birokrat di Kementerian Agama dan diberi ruangan khusus untuk membuka praktik konsultasi psikologi bagi pegawai Kementerian Agama. Sejak saat itu Kementerian Agama mengenal dokter jiwa untuk membantu pegawai yang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah pribadi, problema keluarga dan anak-anak remaja. Klien yang dilayaninya bukan hanya pegawai kantor, tapi juga kalangan masyarakat, sehingga sejak 1965 ia buka praktik di rumah.
Saya beberapa kali silaturahmi di kediaman Ibu Zakiah Daradjat yang sekaligus tempat beliau buka praktik konsultasi agama dan psikologi keluarga di Wisma Sejahtera Jalan RS Fatmawati No 6, Cipete, Jakarta Selatan. ”Setiap hari, selama lima hari dalam sepekan, rata-rata saya menerima tiga hingga lima pasien, tanpa memandang apakah mereka dari golongan masyarakat mampu atau bukan. Seringkali saya tidak menerima bayaran apa-apa, karena memang tujuan saya untuk menolong sesama manusia.” tuturnya kepada wartawan Republika yang mewawancarai tahun 1994. Bekas rumah kediaman dan tempat praktik Zakiah Daradjat kini difungsikan sebagai Klinik Inspektorat Jenderal Kementerian Agama. Saya sangat tepat sekiranya Kementerian Agama mengabadikan nama Zakiah Daradjat pada Klinik tersebut sebagai kenang-kenangan dan penghargaan atas jasa dan pengabdian Zakiah Daradjat yang luar biasa.
Disertasi doktornya diterbitkan oleh Bulan Bintang dengan judul Perawatan Jiwa Untuk Anak-Anak. Pada tanggal 1 Oktober 1982 ia dikukuhkan sebagai Guru Besar IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Bidang Ilmu Jiwa Agama. Dr. Murni Djamal, MA dalam buku 70 Tahun Prof. Dr. Zakiah Daradjat (1999) mengutarakan, sebagai cendekiawan muslim, Zakiah Daradjat tetap pada pendirian bahwa Al Quran dan Hadis haruslah jadi rujukan pertama dan utama bagi setiap muslim, terutama pada saat seseorang harus memilih antara hasil pemikiran manusia dengan bimbingan Tuhan.
Ketika membahas pendidikan dalam hubungannya dengan kesehatan mental, Zakiah Daradjat mengemukakan bahwa pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan yang disengaja dan ditujukan kepada objek yang dididik yaitu anak. Akan tetapi yang lebih penting adalah keadaan rumah tangga, keadaan jiwa ibu bapak, hubungan antara satu dengan lainnya, dan sikap jiwa mereka terhadap rumah tangga dan anak-anak. Segala persoalan orangtua, lanjut Zakiah, akan mempengaruhi si anak.
Menurut temuan klinis Zakiah Daradjat, kebanyakan anak nakal adalah karena di rumah kurang mendapat kasih sayang dari orangtuanya. Karena itu, Zakiah mengaku selalu mengelus dada bila mendengarkan orangtua yang selalu menyalahkan anak-anaknya yang nakal. ”Kita hanya tahunya mereka nakal. Tapi kita tidak mau tahu apa penyebabnya. Padahal para remaja yang kita anggap nakal dan tidak baik itu, mereka sebenarnya adalah orang-orang yang menderita,” ujarnya.
Dalam buku Kesehatan Mental yang sudah mengalami cetak ulang ke-23 sampai tahun 2001, Zakiah Daradjat menulis, Bahwa yang menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup adalah kesehatan mental. Kesehatan mental pulalah yang menentukan apakah orang akan mempunyai kegairahan untuk hidup, atau akan pasif dan tidak bersemangat. Orang yang sehat mentalnya tidak akan lekas merasa putus asa, pesimis atau apatis, karena ia dapat menghadapi semua rintangan atau kegagalan dalam hidup dengan tenang dan wajar dan menerima kegagalan itu sebagai suatu pelajaran yang akan membawa sukses nantinya.
Menurut Zakiah Daradjat, kebahagiaan hidup dalam rumah tangga merupakan modal utama untuk dapat merasakan dan menikmati kebahagiaan pada umumnya. Dalam buku Ketenangan dan Kebahagiaan Dalam Keluarga (1974), ia menuturkan, Dari sekian banyak kasus keluarga, yang pernah datang kepada penulis untuk minta bantuan, agar keluarganya dapat diselamatkan, atau untuk minta pertimbangan terakhir sebelum mengambil keputusan drastis, dapat dikumpulkan beberapa kesimpulan dan pokok-pokok usaha, yang perlu dilakukan oleh suami-istri guna menyelamatkan keluarganya dari kekacauan. Menurutnya, beberapa persyaratan yang perlu diketahui dan dilakukan oleh setiap pasangan suami istri agar dapat tercapai kebahagiaan dan ketenteraman dalam keluarga, ialah saling mengerti, saling menerima, saling menghargai, saling mempercayai, dan saling mencintai.
Sebuah buku yang diberi judul Kebahagiaan diterbitkan 1988, memaparkan tinjauan Zakiah Daradjat tentang beberapa penyakit kejiwaan yang menjadi penyebab hilangnya kebahagiaan yaitu iri, dendam, cemas, dan stress. Diuraikannya bahwa pengendalian diri adalah kunci kebahagiaan. Berapa banyak rumah tangga yang dulu hidup rukun, tenang dan bahagia, berubah menjadi pecah berantakan, tegang dan bermusuhan, akibat tidak mampunya suami istri mengendalikan diri, tegas Zakiah.
Suatu hari saya mengajak tim reporter humas Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mewawancarai Zakiah Daradjat untuk kolom Majalah Zakat yang diterbitkan BAZNAS. Topik wawancara seputar buku karya Ibu Zakiah Daradjat berjudul Zakat Pembersih Harta dan Jiwa (1992), mengenai latar belakang beliau mengangkat judul tersebut. Buku yang diterbitkan oleh Perguruan Islam Rumaha itu mengupas kedudukan zakat sebagai rukun Islam dan hubungan zakat dengan kesehatan jiwa/mental. Dalam bukunya penulis memberi ilustrasi beberapa contoh empiris berdasarkan pengalaman melayani konsultasi agama dan psikologi.
Sebagaimana diutarakannya, dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang mengeluh, cemas dan gelisah tanpa sebab, padahal orang itu kaya atau berkecukupan. Orang mengatakan, Mungkin selama ini dia tidak mengeluarkan zakat.
Zakiah Daradjat mengajak pembaca memetik hikmah dan pelajaran dari pengalaman yang terjadi di masyarakat. Seorang perempuan kaya di usia tuanya mengeluh kesehatannya terganggu. Selera makan hilang dan tidur tidak nyenyak. Dia telah berobat kepada beberapa dokter spesialis, namun tidak sembuh juga. Hampir tiap hari merasa penyakitnya bertambah berat. Seorang temannya berkata: Barangkali Anda tidak menunaikan zakat. Sementara dia merasa telah mengeluarkan zakat, namun dalam hati kecilnya masih timbul kegelisahan.
Suatu hari orang itu datang ke tempat praktik konsultasi Zakiah Daradjat.
Benarkah penyakit saya ini disebabkan karena tidak berzakat? ucapnya.
Mengapa Anda bertanya demikian?
Belakangan ini saya sering sakit. Macam-macam penyakit yang datang. Obat yang diberikan dokter, tidak ada yang menolong. Saya ceritakan kepada teman, justru saya dikatakannya tidak menunaikan zakat. Padahal saya selalu berzakat. Setiap ada orang minta sumbangan, selalu saya beri.
Bagaimana Anda menentukan berapa zakat yang wajib Anda keluarkan?
Yah, itu tidak saya hitung. Yang penting hampir setiap hari saya mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah, kadang-kadang lebih.
Yang Anda berikan kepada orang miskin atau peminta sumbangan dengan cara seperti itu, bukanlah zakat, akan tetapi shadaqah atau sumbangan sukarela. Anda berpahala dengan shadaqah atau sumbangan seperti itu. Akan tetapi, kewajiban Anda untuk mengeluarkan zakat dengan cara demikian, belum terlaksana.
Wanita itu terdiam. Ia tersentak dan menyesali dirinya. Mengapa selama ini tidak menanyakan kepada orang yang mengerti masalah agama.
Menurut Zakiah Daradjat, Pada dasarnya harta memang menunjang kehidupan manusia. Sebaliknya, harta dapat berubah menjadi penyebab kegelisahan, perselisihan dan permusuhan. Karena harta, orang berkelahi. Karena harta, hubungan persaudaraan menjadi renggang, bahkan karena harta, hubungan keluarga menjadi putus. Tidak jarang, perselisihan anak dan orangtua terjadi disebabkan harta. Sebetulnya, bukan harta yang menjadi penyebab. Sebabnya mungkin cara mendapatkan harta itu yang tidak benar, atau sebagian kecil dari harta itu yang sesungguhnya milik orang lain tidak dikeluarkan.
Di sinilah peranan zakat. Manfaat zakat bagi penerimanya sudah jelas, membantunya dalam memenuhi keperluan hidup yang tidak dapat dipenuhinya sendiri. Sedangkan manfaat zakat bagi yang menunaikannya cukup banyak, terutama menjadikan hidup bersih dan sehat. Boleh jadi orang tidak pernah menyangka bahwa zakat mempunyai pengaruh terhadap kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Memang ada sementara orang yang menjadi kaya atau banyak harta, menjauh dari orang miskin dan kurang perhatian kepada kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia terasing dari lingkungannya. ujar beliau.
Selama puluhan tahun Zakiah Daradjat menggugah kesadaran dan kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap ilmu jiwa agama sebagai cabang ilmu pengetahuan yang baru di Indonesia. Ia mengingatkan dalam buku, artikel dan ceramahnya bahwa ketenangan dan kebahagiaan jiwa dalam kehidupan pribadi dan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan agama, nusa dan bangsa. Kesehatan jiwa adalah salah satu modal utama untuk sukses di tengah masyarakat.
Menarik direnungkan surat Zakiah Daradjat tertanggal Cairo 18 September 1960 kepada sahabatnya Dra. Hj. Isnaniah Saleh (Pimpinan Diniyah Puteri Padang Panjang) sebagai berikut: Ada masa bertemu dan ada masa berpisah, dan selamanya ada perobahan, karena itu adalah sunnahnya hidup. Dalam perobahan dan pertukaran itu ada hal yang tetap, ialah hubungan baik antara sesama, hal yang tak lekang dipanas dan tak lapuk dihujan. Di samping itu, ada hal yang selalu tak boleh dilupakan, yang selalu dinamakan orang dengan bahagia. Orang yang berbahagia ialah orang dapat menghadapi segala keadaan dan suasana. Dan selalu merasa bahwa kita dibutuhkan dan berguna bagi perbaikan nusa, bangsa dan agama.
Dalam pengabdian di dunia birokrasi Zakiah Daradjat pernah menjabat Direktur Pendidikan Agama pada Kementerian Agama mulai 1972, dan pada tahun 1977 diangkat menjadi Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI (Periode 1983-1988), anggota MPR-RI (Periode 1992-1997), Dekan Fakultas Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, anggota Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional (1978-1979) serta anggota Dewan Riset Nasional.
Sejak 1969 Zakiah Daradjat mengisi siaran Kuliah Subuh RRI Jakarta sampai dekade 2000-an. Ia kerap pula diminta mengisi siaran Mimbar Agama Islam TVRI Pusat Jakarta petang Kamis malam Jumat.
Mencermati tantangan perubahan nilai-nilai sosial budaya yang kita hadapi dewasa ini patut direnungkan testimoni yang diutarakan Ibu Aisyah Aminy, S.H. dalam buku 70 Tahun Prof. Dr. Zakiah Daradjat (1999) sebagai berikut, Apa yang dilakukan Zakiah ini sangat besar artinya bagi kehidupan keluarga-keluarga di tanah air. Meskipun keluarga merupakan komponen kecil dalam struktur kenegaraan, tetapi memiliki peran yang signifikan dalam menciptakan dan mempersiapkan generasi penerus yang akan menentukan masa depan bangsa. Andaikata jumlah orang yang mempunyai ilmu seperti Zakiah mampu mengamalkannya banyak, saya kira masalah-masalah seperti munculnya anak-anak yang menyimpang tingkah lakunya atau semacamnya tidak akan banyak terjadi seperti yang sering kita saksikan di masa sekarang. Ilmu yang dimiliki Zakiah itu adalah obat yang sangat mujarab. Namun sayang apa yang dimiliki Zakiah tidak cukup luas dikuasai oleh anggota-anggota masyarakat.
Pesan-pesan kesehatan mental dan resep kebahagiaan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat sekian dekade yang lampau semakin terasa relevansinya dengan kondisi aktual masyarakat yang menampilkan wajah krisis kemanusiaan. Sementara itu kesehatan mental dan kebahagiaan tidak bisa diperoleh dengan teknologi informasi dan media sosial. Dalam buku agenda milik Zakiah Daradjat yang saya simpan sebagai koleksi berisi catatan tulisan tangan pointers bahan-bahan ceramahnya di berbagai kesempatan, ia menggarisbawahi fungsi agama dalam kehidupan manusia ialah sebagai pembimbing dalam hidup, penolong dalam kesukaran dan penentram batin. Selain itu agama merupakan pengendali moral dan terapi jiwa.
Zakiah Daradjat menghadap panggilan Ilahi dengan tenang pada tanggal 15 Januari 2013 sekitar pukul 09.00 WIB di RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ciputat dalam usia 83 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat.
Semoga warisan ilmu dan teladan pengabdiannya menginspirasi generasi muda Indonesia untuk meneruskan dan mengisi tempat yang ditinggalkannya. Cita-cita Indonesia Emas 2045 memerlukan prakondisi kehidupan keluarga dan masyarakat yang sehat jiwa raga dan dapat menikmati kehidupan yang bahagia.

Penulis adalah Ketua II Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4 Pusat).

Bagikan ke: