Oleh: DR. H. A. JURAIDI, MA*

Hidup kita di dunia ini sangat singkat, dalam salah satu hadits Rasulullah mensinyalir bahwa umur umatku hanya antara 60 sampai dengan 70 tahun saja, sedikit yang melebihi dari itu.
 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ. (رواه الترمذى وابن ماجه)
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: umur ummatku hanya antara 60 sampai 70 tahun saja, sedikit dari mereka yang melebihi itu”. (HR. Tarmudzi dan Ibnu Majah.

Sejarah mencatat, 4 (empat) khalifah Rasulullah yang dikenal sebagai khulafaurrasyidin yaitu Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, ‘Usman bin Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib, yang merupakan representasi umat saat itu, wafat dalam usia di bawah 70 tahun, hanya seorang yaitu Khalifah Usman bin Affan yang wafat mencapai usia 82 tahun. Hal ini membuktikan kebenaran sabda Rasulullah SAW tersebut. Sedikit yang bisa melebihi 70 tahun. Dari empat Khalifah, hanya satu orang, artinya hanya seperempat, perbandingannya 3 : 1. Bersyukurlah kalau anda termasuk yang sedikit itu.
Oleh karena itu, hidup yang tidak lama ini harus diisi dengan perbuatan baik, amal shalih (al-baqiyatush-shalihat) agar tidak rugi dan tidak menyesal di akhirat nanti. Nah, bagaimana agar kehidupan kita berkualitas? Apa yang harus kita lakukan?
Ada beberapa indikator hidup yang berkualitas, antara lain:
Beriman dan berilmu atau mengetahui.
Semakin kuat iman, dan semakin banyak ilmu yang dimiliki menunjukkan semakin berkualitas hidup seseorang, karena itu, Islam memotivasi kita untuk memperkokoh keimanan dan menambah ilmu pengetahuan. Allah berfirman:
…..يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (١١)
“….. Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadalah: 11).

Orang yang banyak ilmunya (para ‘ulama) akan menghantarkan mereka semakin taqwa, takut kepada Allah, dalam arti khasyatillah, sebagaimana firman Allah:
….. إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ …..
“….Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ‘ulama …..”. (QS. Fathir: 28).

Akan berbeda keadaan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Agar kita mau berpikir dan merenung, Allah SWT berfirman dalam bentuk istifham (pertanyaan) sebagai berikut:
….. قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ (٩)
…. Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. Az-Zumar: 9).

Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar kita menuntut ilmu sepanjang hayat, sejak dari buaian hingga ke liang lahat – اطلبوا العلم من المهد الى اللحد – long life education, karena ilmu membuat hidup kita berkualitas.
Bergerak atau dinamis
Bergerak adalah indikator hidup, semakin dinamis seseorang dalam bekerja dan berusaha, menunjukkan semakin berkualitas hidupnya, setiap gerakan (aktifitas) pasti akan ada keberkahan yang didapatkan, ( الحركة بركة ). Islam melarang perbuatan malas, dan hanya berpangku tangan, Rasulullah mengajarkan do’a: اللهم انى اعوذ بك من العجز والكسل “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari sikap lemah dan malas”. Bahkan Allah menyuruh kita bangkit dan bergerak, bertebaran di muka bumi, cari karunia Allah. Allah berfirman:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (١٠)
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah: 10).

Allah SWT memberikan kewenangan kepada manusia untuk merubah nasib atau keadaannya. Jangan hanya menyerahkan kepada Allah tanpa ada usaha yang dilakukan. Allah SWT menegaskan:
إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ
مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (١١)
“…. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS. Ar-Ra’du: 11).

Produktif dan bermanfaat
Indikasi hidup yang berkualitas selanjutnya adalah produktif dan bermanfaat untuk orang banyak. Nabi Muhammad SAW memuji orang yang bisa membawa manfaat bagi manusia lainnya:
عن جابر بن عبدالله قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خير الناس انفعهم للناس

“Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, bersabda Rasulullah SAW: Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia lainnya”.

Kalau hidup sudah tidak bisa menghasilkan sesuatu, baik materi, maupun non materi (seperti pahala), itu sama dengan kematian. Ada manusia yang masih kategori usia produktif, tapi dia tidak bisa menghasilkan apa-apa karena salah dalam memilih jalan hidup dan pergaulan, contohnya para korban narkoba, hidup mereka sama dengan mati sebelum datangnya kematian. Oleh karena itu, Islam melarang kita menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Allah berfirman :
…..وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٩٥)
“…..dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Baqarah: 195).

Ada kelompok manusia yang sangat berkualitas hidupnya, sehingga walaupun mereka sudah wafat, tapi masih produktif seolah-olah mereka masih hidup, sebagaimana firman Allah:
وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (١٦٩)
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup, disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki”. (QS. Ali ‘Imran: 169).

Mereka senantiasa mendapat rezeki dari Allah, melalui do’a yang dipanjatkan oleh orang-orang yang hidup setelahnya. Kalau bisa kita masuk dalam kelompok ini. Meski sudah tiada, tapi masih produktif, rezeki berupa pahala masih terus mengalir.
Rasulullah Muhammad SAW adalah orang yang paling berkualitas hidupnya, diikuti para syuhada, para aulia, dan orang-orang shalih. Maqamnya senantiasa diziarahi, antar peziarah berinteraksi dan sesama mereka bertransaksi dan bermu’amalah sehungga terjadi bisnis yang menghasilkan kesejahteraan di antara mereka. Ini artinya mereka yang sudah wafat bisa memberikan manfaat bagi orang-orang yang masih hidup. Itulah contoh kehidupan yang berkualitas.
Hidup Berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah
Kehidupan yang indah dan berkualitas adalah manakala kehidupan kita dilandasi dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Sayyid Qutub dalam muqaddimah tafsirnya menjelaskan, hidup di bawah naungan Al-Quran adalah suatu nikmat. Nikmat yang tidak dimengerti kecuali oleh yang merasakannya. Nikmat yang mengangkat harkat manusia, menjadikannya diberkahi dan disucikan. Betapa manis dan indahnya kehidupan yang berlandaskan Al-Quran, sehingga beliau beri nama Kitab Tafsirnya “Fi Zhilalil-Qur’an – Di Bawah Naungan Al-Quran”.
Al-Quran menyeru kita untuk meraih kehidupan yang berkualitas, sebagaimana firmanNya yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu ……” (QS. Al-Anfal: 24).

Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa setiap seruan Allah dan seruan RasulNya adalah untuk memberikan kehidupan kepada umat manusia, yakni kehidupan yang berkualitas. Sebab ada orang yang hidup tapi dianggap belum hidup, bahkan mati sebelum kematian, na’udzubillah.
Seruan Allah dan seruan Rasul tersebut termuat dalam Al-Quran dan As-Sunnah, bila diikuti akan membimbing kita kepada kehidupan yang berkualitas. Meskipun hidup kita sangat terbatas, namun kita berharap memperoleh kehidupan yang berkualitas. In sya Allah.

—–
*Dosen UIN dan PTIQ Jakarta, Ketua BP4 Pusat, dan Komisi Ukhuwah MUI Pusat.

Bagikan ke: