Oleh DR. H. A. JURAIDI, MA*

Setiap orang tua pastilah menginginkan keturunan  berupa anak-anak yang shaleh dan shalehah sebagai generasi penerus, melanjutkan cita-cita dalam kehidupan. Untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah semudah membalik telapak tangan, namun perlu perjuangan, terlebih di era modernesasi dan digitalisasi sekarang ini, dimana teramat banyak godaan-godaan keimanan, dan rayuan-rayuan yang mengarahkan anak-anak kepada kemerosotan dan bahkan dekadensi moral.

Pantaslah ketika berbicara tentang kedudukan anak, Al-Quran mengingatkan bahwa ada beberapa kriteria anak bagi orang tuanya,  antara lain sebagai berikut:

  1. Anak sebagai ujian.

Allah berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (٢٨)

     Artinya: “….. dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah  sebagai ujian,  dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS. Al-Anfal: 28). 

Ayat yang senada terdapat di dalam Surat At-Taghabun ayat 15:

 إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (١٥)

Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS. At-Taghabun: 15).

Anak sebagai fitnah, artinya anak menjadi ujian bagi setiap orang tua, apakah dia bisa melaksanakan amanah Allah berupa anak-anak yang  dititipkan Allah kepadanya. Bisakah orang tua mendidik dan membesarkan anaknya sesuai dengan tuntunan Allah. Orang tua yang berhasil menjadikan anak-anak yang shaleh shalehah, menjadi generasi penerus yang taat kepada Allah, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar berupa kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak.

Kehadiran anak bagi setiap orang tua memang dinantikan, namun kehadiran anak tersebut menuntut tanggungjawab yang besar untuk dirawat, dibesarkan, dan dididik sesuai dengan ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda:

عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: ” مِنْ حَقِّ الْوَلَدِ عَلَى الْوَالِدِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: أَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ إِذَا وُلِدَ، وَيُعَلِّمَهُ الْكِتَابَ إِذَا عَقَلَ، وَيُزَوِّجَهُ إِذَا أَدْرَكَ

 Artinya; “Dari Abu Hurairah RA bahwa sesungguhnya Nabi SAW bersabda: di antara hak anak (yang didapatkan) dari orang tuanya ada tiga hal, diberikan nama yang baik ketika (anak) lahir, diajarkan Al-Quran apabila ia telah memasuki usia cukup berakal, dan menikahkannya apabila telah dewasa”.

Hadits di atas mengingatkan kepada setiap orang tua agar menunaikan 3 (tiga) kewajiban terhadap anak yang Allah titipkan kepadanya, yaitu:

  • Memberi nama yang baik saat anaknya dilahirkan, karena nama merupakan do’a dan sangat berpengaruh bagi kehidupan sang anak selanjutnya;
  • Mengajarkan Al-Quran ketika anak sudah mulai berakal. Ketika anak sudah mulai berakal maka pendidikan yang pertama dan utama adalah mengajarkan membaca Al-Quran sebagai modal dasar bagi anak untuk mempelajari dan memahami ajaran Islam, karena Al-Quran merupakan sumber pokok ajaran Islam;
  • Menikahkan jika sudah dianggap dewasa. Orangtua berkewajiban menikahkan anaknya sebagai kewajiban terakhir. Setelah menikah jika dia anak perempuan maka tanggungjawab berpindah kepada suaminya. Jika dia anak laki-laki maka dia menjadi pemimpin baru bagi isterinya. Itulah estafet kehidupan yang diajarkan Islam

      2. Anak sebagai musuh.

Allah berfirman dalam surat At-Taghabun ayat 14 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا

 وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٤)

Artinya: “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun: 14).

 Anak sebagai musuh pernah dialami oleh seorang Nabi dan diabadikan kisahnya dalam Al-Quran, yaitu Nabi Nuh. Di saat Nabi Nuh berjuang menyampaikan risalah Allah yang diamanatkan kepadanya dan memerlukan penolong dari orang-orang terdekat, tapi justru isteri dan anaknya yang menjadi pembangkang utama ajarannya. Ketika banjir sudah menggunung, Kan’an sang anak tidak bergeming dari pembangkangannya, dan tetap menolak ajakan Nabi Nuh, sehingga Allah berfirman kepada Nabi Nuh:

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ

أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (٤٦)

Artinya: “Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya, perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. (QS. Huud: 46).

 Perlu hati-hati kita dalam mendidik anak, jangan sampai anak kandung kita (anak biologis) dikategorikan bukan anak kita karena tidak mematuhi ajaran agama (anak spiritual). Kita menginginkan anak-anak biologis kita juga menjadi anak spiritual, sekaligus anak kultural kita yang mengerti sopan santun sesuai adat istiadat bangsa kita.

  1. Anak sebagai Perhiasan.

Allah berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 46 :

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

Artinya:“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (QS. Al-Kahfi: 46).

Dari tiga kriteria anak yang digambarkan dalam Al-Quran tersebut, tentunya kita menginginkan anak-anak kita sebagai perhiasan, bukan saja perhiasan di dunia yang bisa dibanggakan kepada teman sejawat, handai tolan dan keluarga, tapi juga bisa menjadi kebanggaan ketika kita sudah berada di alam barzakh karena selalu mendapatkan kiriman dari anak2 kita yang senantiasa mendo’akan orang tuanya, hingga di akhirat kelak. Itulah perhiasan terindah kita dari anak-anak yang shaleh dan shalihah. Allahumma Amin.

Penulis adalah Dosen UIN Jakarta, Universitas PTIQ Jakarta, Ketua BP4 Pusat, dan Komisi Ukhuwah MUI Pusat.

Bagikan ke: